All Cats Are Beautiful

(Foto: Ilustrasi Ahmadnrmansyah)

All Cats Are Beautiful

(Foto: Ilustrasi Ahmadnrmansyah)

All Cats Are Beatiful (ACAB). Felis Catus sebutan lain dari kucing, hewan yang paling banyak dipelihara karena perawakannya yang menggemaskan, akan tetapi menjadi salah satu spesies hewan yang sering mendapatkan perlakuan kejam atau penyiksaan. Selain postur tubuh dan tingkah lakunya yang manja menjadi daya tarik untuk memelihara hewan mungil ini. Namun siapa kira, setiap dari yang ingin memutuskan untuk memiliki sesuatu, tentunya apa yang sudah dimiliki tersebut harus bisa di pertanggungjawab kan dengan memberikan perlakuaan yang adil terhadap pilihan itu yakni seperti hewan peliharaan.

Timbulnya kekejaman dan penyiksaan terhadap hewan peliharaan seperti kucing, contoh kasus penyiksaan kemungkinan terjadi atas kekesalan dari seseorang yang melihat tingkah laku kucing tersebut seperti buang air disembarang tempat, atau kemungkinan timbulnya penyiksaan tersebut atas rusaknya kejiwaan seseorang sehingga melakukan penyiksaan terhadap kucing. Atau kemungkinan pula, ada seseorang yang tak suka kucingnya kencan dengan sesama kucing, ku kira.

Di dunia, video penyiksaan hewan yang diunggah terdapat 5.480 video penyiksaan hewan berdasarkan dari Laporan Social Media Animal Cruelty Coalition (SMACC) Report 2021. Dari jumlah itu, video penyiksaan hewan paling banyak berasal dari Indonesia, yakni 1.626 konten atau 29,67%. Diketahui di Indonesia sendiri, Kesejahteraan hewan diatur dalam Undang-Undang No.18 Tahun 2009, Pasal 66-67 Tentang Kesejahteraan Hewan. Kemudian kesejahteraan kucing dan anjing secara spesifik diatur pada pasal 302 KUHP tentang penganiayaan ringan pada hewan. Hewan sebagai sesama makhluk hidup pastinya punya hak-haknya tersendiri yang perlu dijaga. Berbeda dengan manusia yang hak dan kewajibannya lebih kompleks, kucing mungkin lebih sederhana.

Kebesaran suatu bangsa dan kemajuan moralnya dapat dinilai dari cara hewan diperlakukan
-Mahatma Gandhi.

Sama seperti manusia, hewan juga memiliki hak untuk mendapatkan kebebasan. Tidak sedikit kasus-kasus penyiksaan terhadap kucing yang ditangani Kepolisian RI. Seperti kasus dua orang pria yang melakukan penyiksaan terhadap kucing dengan menggunakan petasan yang terjadi di Nusa Tenggara Barat di Plampang, dan juga terjadi di Tangerang Selatan pelaku penyiksaan terhadap kucing yang meminta maaf melalui vidio klarifikasi setelah melakukan penyiksaan, yang kucing sendiri tak mengerti kata maaf.

Ketika menulis ini kurang rasanya jika tidak dituliskan ketika teringat dengan kalimat Emma Goldman, dalam sebuah buku ‘Ini Bukan Revolusiku’, “Cinta bebas? Seolah cinta adalah sesuatu yang tidak bebas! Manusia telah membeli otak, tetapi jutaan orang di dunia telah gagal membeli cinta. Manusia telah ditundukkan oleh tubuh, tetapi semua kekuatan di bumi belum mampu menaklukkan cinta. Manusia telah menaklukkan seluruh bangsa, tetapi semua pasukannya tidak bisa menaklukkan cinta. Manusia telah dirantai dan terbelenggu semangatnya, ia menjadi benar-benar tak berdaya sebelum cinta mendatanginya. Tinggi di atas takhta dengan semua kemegahan dan kemewahannya untuk dapat memerintah, manusia tetaplah miskin dan terpencil, kecuali jika cinta
melewatinya.

Alih-alih ingin meneladani sifat-sifat Abu Hurairah sebagai penyayang dan pencinta kucing, malah nyimpang kebarisan polisi yang berada dihadapan demonstrasi. Sesekali pula bertingkah seperti pasangan George di cerpen Cat in The Rain Karya Ernest Hemingway.

Seperti dijudul, All Cats Are Beautiful (ACAB) akronim yang perna tertulis ditas belanjaan dari seorang perempuan Spanyol pada tahun 2016 yang ditangkap polisi, yang polisi menduga singkatan ACAB sendiri yang berarti akronim dari All Cops Are Bastard, sehingga pada saat itu memicu kritikan keras dimedia sosial pada polisi. ACAB sendiri merujuk pada kalimat ”All Cops Are Bastards” (Semua polisi itu buruk), yang merupakan suatu ideologi politis dan cenderung anarkis, yang mengasumsikan bahwa tidak ada satu pun polisi yang baik dan bisa dipercaya.

Tidak semua, tapi kebanyakan iya. Bahwa kritik terhadap istilah ini berpendapat hanya bersifat fenomena bahasa dan berhubungan erat menyerang petugas polisi sebagai individu dan percaya bahwa ada istilah lain yang bisa digunakan untuk mendukung reformasi kepolisian, karena tidak semua polisi berperilaku buruk. Namun, kritik tersebut ditentang oleh para pendukung ACAB dikarenakan maksud dan tujuan dari istilah tersebut ditujukan kepada lembaga kepolisian itu sendiri dan bukannya kepada individu atau kebanyakan oknum.

Awal mula kalimat “All Cops Are Bastards” pertama kali muncul di Inggris pada tahun 1920-an, yang kemudian disingkat menjadi “ACAB” oleh para pekerja yang mogok pada tahun 1940-an. Pada Abad 19, ketika dimunculkan pemerintah Inggris, tugas aparat kepolisian adalah menghadapi warga sipil lainnya. Khususnya untuk menggamankan dan memadamkan unjuk rasa yang digelar petani miskin Irlandia karena kelaparan. Polisi juga diperintahkan mendisiplinkan para pekerja di kota besar seperti London dan Liverpool yang kondisi pabriknya buruk atau menganggur lalu membuat kebisingan di jalan. Karena dirasa lahir untuk menertibkan aspirasi progresif, kelas pekerja Inggris di masa itu akhirnya mencetuskan akronim “All coppers are bastards”.

Beberapa literatur menyebutkan ACAB mulai populer di negeri para fans sepak bola garis keras, di Inggris, sekitar pertengahan tahun 1970-an. Menurut buku A Dictionary of Catch Phrases karangan Eric Patrige, ACAB mulai dikenal luas karena tulisan seorang Jurnalis asal Kota Newcastle Inggris setelah dirinya mengunjungi penjara-penjara dimana disetiap dinding penjara banyak terdapat coretan ACAB, All Coopers Are Bastard.

Ketika konsep polisi menyebar ke negeri Eropa lain (dan jajahan mereka), kritik ACAB ikut diadopsi. Penduduk Prancis menerjemahkan ACAB menjadi “Tout le monde déteste la police”, yang secara harfiah artinya “semua orang benci polisi.” Selama tahun 1980-an, ACAB menjadi simbol anti- kemapanan , terutama dalam subkultur punk dan skinhead. Istilah Ini dipopulerkan khususnya oleh lagu 1982 “ACAB” oleh Oi! band The 4-Skins.

Pemakaian slogan ACAB “All Cats Are Beautiful“ tentu saja disukai pencinta kucing. Akan tetapi ketika diganti dengan kalimat “All Corp Are Bastard“ tentu saja tidak disukai polisi. Mana ada kelompok atau pun perseorangan yang mau dikatai bajingan atau buruk tanpa sebab. Kendati demikian, dengan frasa sederhana seperti ACAB memiliki relevansi global yang tak lekang oleh waktu.

Bagaimana bisa frasa tersebut tak lekang oleh waktu?, hal ini kita bisa lihat dari para musisi yang menyinggung persoalan ini, seperti di salah satu lagu David Bowie berjudul “Over The Wall We Go”, “all coppers are nanas, Over the wall we go, Leave him a note saying “Wish you was here”. Selain itu, lewat dokumenter We Are The Lambeth Boys, ketika ada adegan sekelompok buruh remaja dari atas truk menyanyikan ACAB untuk seorang polisi yang mereka lihat di jalan.

Kendati begitu, banyak negara yang menyikapi serius penggunaan kata ACAB ini. Pada Januari 2011, tiga suporter bola asal Belanda, dijatuhi denda Rp 5,3 juta gara-gara pakai kaus bertuliskan ACAB. Kemudian, di Kroasia, pada 2018 seorang pria didenda Rp 1,5 juta gara-gara mengunggah kata ACAB ini di laman Facebook-nya. Selanjutnya, tahun 2014, Jerman melarang keras pemasangan spanduk bertuliskan “ACAB” dan “1312” di laga sepakbola.

Sambil menulis persoalan ini, sembari sesekali saya melihat seekor kucing yang terbaring di sebuah kursi.“Memiliki banyak kucing di sekitar itu bagus. Jika Anda merasa tidak enak, lihat saja kucing-kucing itu, Anda akan merasa lebih baik, karena mereka tahu bahwa semuanya apa adanya.” Dengan apa yang dikatakan novelis Charles Bukowski, lantas saya terjebak menjadi lelaki meong yang tidak sepenuhnnya membenci saudara laki-laki saya yang tidak menyukai ACAB All Cats Are Beautiful.

 

Penulis Mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di kota Tarakan, yang katanya ntar lagi lulus.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *