BULUNGAN, Kalpress.ID — Upaya menekan angka risiko preeklampsia pada ibu hamil terus digencarkan oleh akademisi di Kalimantan Utara. Kali ini, Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Borneo Tarakan (UBT) turun langsung ke Desa Mangkupadi, Kabupaten Bulungan, untuk melaksanakan program bertajuk PRIMA (Pemantauan Preeklampsia Terintegrasi).
Program inovatif ini difokuskan untuk memperkuat pencegahan dan deteksi dini preeklampsia langsung berbasis komunitas. Langkah ini dinilai sangat krusial mengingat para kader posyandu di desa memiliki posisi yang strategis dan bersentuhan langsung dengan masyarakat sehari-hari.
Ketua Tim Pelaksana PKM UBT, Gusriani, S.ST., M.Keb., menjelaskan bahwa keterlibatan kader posyandu menjadi kunci utama dalam memperkuat pemantauan risiko kehamilan di luar fasilitas kesehatan formal. Dalam pelaksanaannya, program PRIMA, yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Tahun Pendanaan 2026 ini, merangkum tiga kegiatan utama yang sangat aplikatif.
“Kegiatan ini mencakup pelatihan skrining risiko dan deteksi dini preeklampsia, pemanfaatan aplikasi PRIMA sebagai instrumen pemantauan kehamilan berbasis digital, serta pelatihan yoga prenatal sebagai upaya promotif dan preventif non-farmakologis,” ujar Gusriani.

Dalam sesi pelatihan skrining, para kader dibekali edukasi mendalam mengenai apa itu preeklampsia, faktor risiko yang harus diwaspadai, tanda bahaya kehamilan, hingga teknik komunikasi yang efektif saat melakukan pendampingan kepada ibu hamil di lapangan. Simulasi langsung juga diberikan agar para kader benar-benar siap dan terampil.
Antusiasme tinggi tampak jelas dari para peserta yang hadir. Salah satu kader posyandu mengaku sangat terbantu dengan kehadiran program PRIMA ini karena memberikan wawasan baru yang sangat esensial.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat karena memberikan pengetahuan baru tentang preeklampsia dan membantu kami lebih memahami tanda-tanda yang perlu diwaspadai pada ibu hamil,” ungkap salah seorang kader dengan antusias.
Tidak hanya itu, pengenalan aplikasi berbasis digital bernama PRIMA juga memberikan warna baru yang menarik bagi para kader. Mereka menilai aplikasi tersebut menjadi alternatif praktis dalam memantau kesehatan ibu hamil di era digital saat ini. Pelatihan yoga prenatal pun tak kalah menuai respons positif, di mana para peserta mendapatkan keterampilan baru yang langsung bisa diaplikasikan untuk mendampingi ibu hamil di lingkungan masyarakat.
Pelaksanaan PKM PRIMA ini turut digawangi oleh jajaran dosen UBT lainnya, yakni Kharis Hudaiby Hanif, S.Pd., M.Kom., dan Mega Octamelia, S.ST., M.Kes., serta melibatkan mahasiswa aktif Universitas Borneo Tarakan. Tim berharap program ini tidak berhenti sesaat, melainkan membawa dampak jangka panjang yang berkelanjutan.
“Kami berharap program PRIMA ini dapat memperkuat peran kader dalam mendampingi ibu hamil serta mendukung pemantauan risiko kehamilan secara lebih dini dan berkelanjutan,” pungkas Gusriani.
Ke depan, keberlanjutan program ini akan terus diarahkan pada optimalisasi penggunaan aplikasi PRIMA, pelaksanaan skrining rutin, serta konsistensi kegiatan promotif seperti yoga prenatal dengan tetap menjalin koordinasi erat bersama tenaga kesehatan setempat di Bulungan.









