TARAKAN, Kalpress.ID — Pencegahan stunting kini tak lagi menunggu hingga anak mengalami gangguan pertumbuhan. Berangkat dari kesadaran pentingnya deteksi dini, tim akademisi dari Universitas Borneo Tarakan (UBT) mengambil langkah progresif dengan merangkul para kader Posyandu di Kelurahan Karang Rejo, Kecamatan Tarakan Barat, Kota Tarakan.
Melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Tahun 2026, UBT menggelar program bertajuk “Penguatan Kapasitas Kader Posyandu melalui Pendekatan Terintegrasi Berbasis Keluarga untuk Mewujudkan Zero New Stunting.”
Ketua Tim Pelaksana, Sulidah, M.Kep., bersama para anggotanya, Dr. Nurasmi, M.Si. dan Ana Damayanti, MKM, merancang kegiatan ini untuk mendongkrak peran kader. Kader posyandu tidak lagi sekadar menjadi pelaksana rutinitas bulanan, melainkan bertransformasi menjadi garda terdepan deteksi dini dan pendamping keluarga.
“Pencegahan stunting tidak cukup hanya dilakukan ketika seorang anak telah mengalami gangguan pertumbuhan. Upaya yang lebih penting adalah mengenali faktor risiko sejak dini, memperkuat keluarga, serta memastikan kader posyandu memiliki kemampuan yang memadai untuk melakukan pemantauan dan pendampingan di tingkat masyarakat,” ujar Ketua Tim Pelaksana, Sulidah, M.Kep.

Menjawab Tantangan Pesisir Karang Rejo
Wilayah Karang Rejo memiliki potensi sekaligus tantangan tersendiri dalam isu stunting. Data awal menunjukkan cakupan pemantauan tumbuh kembang balita baru mencapai 56,11 persen, sementara angka ASI eksklusif berada di posisi 64,15 persen.
Mirisnya, pemanfaatan pangan lokal sebagai sumber protein hewani masih tergolong sangat rendah, yakni hanya 8,06 persen. Padahal, Karang Rejo merupakan kawasan pesisir yang kaya akan hasil perikanan. Kondisi inilah yang ditangkap tim UBT sebagai peluang besar untuk menghadirkan solusi pencegahan stunting berbasis potensi lokal.
Dari Pengukuran Presisi hingga KMS Digital
Dalam meningkatkan kapasitas teknis kader, pelatihan difokuskan pada akurasi pengukuran berat serta panjang atau tinggi badan balita. Langkah ini vital agar data yang diperoleh benar-benar valid sebagai dasar deteksi dini.
Tak berhenti di situ, para kader juga dibekali keterampilan mengoperasikan KMS Digital/Online. Melalui aplikasi ini, kader dilatih mencatat data antropometri, membaca grafik pertumbuhan, hingga secara cepat mengidentifikasi balita yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Edukasi PHBS, Pola Asuh, dan Sentuhan Komunikasi Persuasif
Tim UBT menyadari bahwa penanganan stunting erat kaitannya dengan lingkungan. Oleh karena itu, kader dibekali instrumen audit Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) rumah tangga untuk mendeteksi masalah sanitasi keluarga.
Selain itu, edukasi pola asuh dan ASI eksklusif dikemas secara interaktif lewat diskusi kasus serta simulasi. Pendekatan ini dirancang agar kader tidak hanya menyampaikan informasi secara satu arah, tetapi mampu membangun komunikasi yang persuasif.
“Melalui pendekatan ini, kader diharapkan tidak hanya menyampaikan informasi secara satu arah, tetapi mampu membangun komunikasi yang lebih persuasif dan sesuai dengan kondisi ibu serta keluarga yang didampingi di lapangan,” tambah Sulidah.

Inovasi FROZEN-FISHNUT: Ubah Ikan Lokal Jadi Nugget Bergizi
Salah satu terobosan paling menarik dari program ini adalah kehadiran inovasi FROZEN-FISHNUT. Memanfaatkan kekayaan laut setempat, para kader diajarkan mengolah ikan lokal menjadi olahan beku yang sehat, aman, dan disukai anak-anak, seperti nugget ikan.
Kader dilatih mulai dari pemilihan bahan baku segar, pemahaman keamanan pangan, teknik pengolahan, pengemasan, hingga penyimpanan suhu beku. Inovasi ini menjadi langkah konkret mendongkrak asupan protein hewani keluarga pesisir dengan memanfaatkan apa yang ada di sekeliling mereka.
Harapan dan Dukungan Pendanaan
Dengan serangkaian pendampingan ini, tim pengabdi berharap para kader dapat terus menjadi ujung tombak yang menghubungkan pelayanan kesehatan dengan kondisi riil di rumah tangga warga.
“Melalui program ini, kader diharapkan semakin mampu berperan sebagai penghubung antara pelayanan kesehatan dan keluarga. Pencegahan stunting pun dapat bergerak lebih dekat ke rumah tangga, dilakukan sejak faktor risiko muncul, dan memanfaatkan sumber daya yang tersedia di lingkungan masyarakat,” pungkasnya.
Sebagai informasi, program pengabdian masyarakat ini terlaksana berkat dukungan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemenkomdikti Saintek) Republik Indonesia Pendanaan Tahun 2026.









