TARAKAN, Kalpress.ID – Wajah pelayanan air bersih di Kalimantan Utara sedang dirombak dan terus berbenah maju. Tidak ingin terjebak dalam pola manajemen konvensional yang rentan gangguan, Perpamsi Kaltara secara agresif membekali 107 punggawanya dengan sistem mitigasi risiko dan standar akuntansi terbaru.
Langkah ini diambil sebagai jawaban atas tingginya ekspektasi publik di “Bumi Benuanta” yang menuntut distribusi air bersih tanpa hambatan dan tata kelola keuangan yang bersih.
Dalam In-House Training yang digelar di Tarakan ini, strategi Early Warning System (EWS) menjadi sorotan utama. Pakar ekonomi, Prof. Dr. Tri Ratnawati, menegaskan bahwa PDAM tidak boleh lagi bekerja dengan pola “pemadam kebakaran”—baru bergerak setelah ada masalah.
“Manajemen risiko adalah jantung keberlanjutan perusahaan. Dengan indikator warna (merah, kuning, hijau), direksi bisa melihat potensi kegagalan operasional sebelum masyarakat merasakannya. Ini soal mendeteksi risiko sejak dini, bukan merespons setelah krisis,” tegas Prof. Tri.
Tak hanya urusan pipa dan distribusi, sektor dapur keuangan juga dibedah habis. PDAM se-Kaltara kini tengah bersiap melakukan transisi besar dari SAK ETAP menuju SAK Entitas Privat (SAK EP).
Migrasi standar akuntansi ini bukan sekadar formalitas administratif, melainkan upaya menciptakan transparansi “level tinggi”. Dengan standar baru ini, auditor internal dan eksternal akan memiliki parameter yang lebih ketat dalam menilai akuntabilitas setiap rupiah yang dikelola perusahaan.
Ketua Perpamsi Kaltara, Iwan Setiawan, S.Pd., M.M., M.H memastikan bahwa kegiatan ini adalah bentuk intervensi serius untuk meningkatkan performa karyawan di lima kabupaten/kota (Tarakan, Bulungan, Nunukan, Malinau, dan KTT).
“Tantangan pelayanan air bersih makin kompleks. Kalau SDM kita tidak dibekali kemampuan membaca risiko dan manajemen keuangan modern, kita akan tertinggal. Ini adalah harga mati untuk memberikan layanan terbaik bagi masyarakat,” ujar Iwan.
Melalui perombakan kompetensi ini, Perpamsi Kaltara menargetkan transformasi nyata: pelayanan yang lebih stabil, minim kebocoran (risiko), dan laporan keuangan yang lebih sehat. (*)











