Prodi Ekonomi Pembangunan UBT Rekonstruksi Kurikulum, Sesuaikan dengan Potensi Kaltara dan Kebutuhan Dunia Kerja

TARAKAN, Kalpress.ID — Program Studi Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Borneo Tarakan (UBT) melaksanakan kegiatan Revisi dan Rekonstruksi Kurikulum Program Studi Ekonomi Pembangunan pada 20–21 Agustus 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen Prodi untuk memastikan kurikulum yang dikembangkan mampu menjawab perubahan kebutuhan dunia kerja sekaligus mengoptimalkan potensi strategis Kalimantan Utara sebagai wilayah perbatasan dan kawasan yang memiliki kekayaan sumber daya alam serta kelautan.

Kegiatan tersebut melibatkan berbagai unsur, mulai dari mahasiswa, alumni, dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, hingga stakeholder sebagai pengguna lulusan. Sejumlah stakeholder yang turut memberikan masukan berasal dari Bank Indonesia KPw Kalimantan Utara, BAWASLU, Perumda/PDAM, Badan Pusat Statistik (BPS), serta berbagai instansi pemerintah, lembaga dan mitra lainnya.

Keterlibatan stakeholder menjadi bagian penting dalam proses rekonstruksi kurikulum karena perguruan tinggi tidak dapat menyusun kompetensi lulusan hanya berdasarkan perspektif akademik. Masukan dari dunia kerja menjadi salah satu dasar untuk melihat kompetensi apa yang benar-benar dibutuhkan oleh pengguna lulusan saat ini dan di masa mendatang.

Ketua Program Studi Ekonomi Pembangunan FEB UBT menyampaikan bahwa kegiatan revisi kurikulum tidak sekadar dimaksudkan untuk melakukan perubahan terhadap daftar mata kuliah, tetapi merupakan proses untuk memastikan adanya keterhubungan antara pembelajaran di perguruan tinggi, kebutuhan pasar tenaga kerja, dan karakteristik ekonomi wilayah Kalimantan Utara.

“Kita ingin kurikulum yang dihasilkan bukan hanya relevan secara akademik, tetapi juga relevan dengan kebutuhan pasar tenaga kerja. Karena itu, masukan dari pengguna lulusan, alumni, mahasiswa, dan dosen menjadi sangat penting dalam menentukan kompetensi yang harus dimiliki lulusan Ekonomi Pembangunan UBT,” ungkapnya.

Kekhasan Kaltara Menjadi Pertimbangan Rekonstruksi Kurikulum

Sebagai provinsi yang berada di wilayah paling utara Pulau Kalimantan dan berbatasan langsung dengan Malaysia, Kalimantan Utara memiliki karakter ekonomi dan geografis yang berbeda dengan banyak wilayah lainnya di Indonesia. Posisi tersebut memberikan peluang sekaligus tantangan dalam pengembangan ekonomi regional, perdagangan lintas batas, konektivitas, logistik, pembangunan kawasan perbatasan, serta pengelolaan sumber daya alam.

Kaltara juga memiliki potensi besar pada sektor perikanan dan kelautan, pertanian, pertambangan, industri pengolahan, energi, perdagangan, pariwisata, serta ekonomi kawasan perbatasan. Kajian Bappenas mengenai Kaltara juga menunjukkan adanya potensi dan keterkaitan antarsektor yang penting untuk dikembangkan melalui pendekatan ekonomi wilayah dan hilirisasi.

Kondisi tersebut menjadi pertimbangan penting bagi Program Studi Ekonomi Pembangunan UBT untuk tidak hanya menghasilkan lulusan yang memahami teori ekonomi secara umum, tetapi juga memiliki kemampuan membaca dan menganalisis persoalan ekonomi yang spesifik dengan karakteristik wilayah Kalimantan Utara.

Dengan demikian, rekonstruksi kurikulum diarahkan untuk memperkuat kompetensi mahasiswa dalam bidang seperti ekonomi regional dan perbatasan, ekonomi pesisir dan kelautan, ekonomi sumber daya alam dan lingkungan, perdagangan dan ekonomi lintas batas, pembangunan wilayah, hilirisasi, ekonomi digital, analisis data ekonomi, kebijakan publik, serta pembangunan berkelanjutan.

Dari Potensi Wilayah Menjadi Kompetensi Lulusan

Melalui rekonstruksi kurikulum ini, potensi geografis dan sumber daya Kaltara diharapkan tidak hanya menjadi objek kajian dalam pembelajaran, tetapi juga dapat menjadi laboratorium pembelajaran dan penelitian bagi mahasiswa.

Mahasiswa dapat diarahkan untuk mempelajari persoalan ekonomi secara langsung melalui berbagai konteks lokal, seperti ekonomi masyarakat pesisir, aktivitas perdagangan perbatasan, pengembangan UMKM, sektor perikanan, hilirisasi sumber daya alam, pembangunan kawasan, konektivitas antarwilayah, hingga dinamika ekonomi masyarakat di wilayah perbatasan.

Pendekatan tersebut diharapkan dapat menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan analitis, adaptif, berbasis data, melek teknologi, serta mampu memahami persoalan ekonomi secara kontekstual.

Kurikulum juga akan diarahkan agar mahasiswa tidak hanya memiliki kemampuan teoritis, tetapi mampu mengembangkan problem solving, data analysis, policy analysis, digital skills, communication, collaboration, dan entrepreneurial skills yang dibutuhkan dalam lingkungan kerja yang semakin dinamis.

Menjembatani Kampus dengan Dunia Kerja

Masukan dari stakeholder dalam kegiatan ini menjadi salah satu komponen penting untuk memetakan kesenjangan antara kompetensi yang selama ini diberikan melalui proses pembelajaran dengan kompetensi yang dibutuhkan oleh dunia kerja.

Kehadiran lembaga seperti Bank Indonesia KPw Kalimantan Utara, BAWASLU, BPS, PDAM, serta berbagai instansi lainnya juga memberikan perspektif yang beragam mengenai kebutuhan tenaga kerja di sektor pemerintahan, lembaga negara, perbankan, badan usaha, maupun sektor lainnya.

Karena itu, rekonstruksi kurikulum diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang memiliki fleksibilitas karier, baik sebagai analis ekonomi, perencana pembangunan, analis data, praktisi perbankan dan keuangan, aparatur pemerintahan, peneliti, konsultan, entrepreneur, maupun profesi lainnya yang membutuhkan kompetensi ekonomi.

Kegiatan revisi kurikulum ini sekaligus menjadi momentum bagi Program Studi Ekonomi Pembangunan FEB UBT untuk memperkuat identitasnya sebagai program studi yang tidak hanya menghasilkan lulusan dengan penguasaan ilmu ekonomi, tetapi juga lulusan yang memahami karakter wilayah, mampu membaca peluang ekonomi, dan siap berkontribusi terhadap pembangunan Kalimantan Utara sebagai wilayah perbatasan dan bagian strategis Indonesia.

“Potensi Kaltara harus menjadi bagian dari kekuatan akademik kita. Kurikulum tidak boleh berhenti di ruang kelas, tetapi harus mampu membawa mahasiswa memahami persoalan nyata di wilayahnya dan menyiapkan mereka untuk menjawab kebutuhan masa depan,” demikian disampaikan dalam kegiatan tersebut.

Melalui proses yang melibatkan akademisi, mahasiswa, alumni, pengguna lulusan, dan stakeholder, Prodi Ekonomi Pembangunan FEB UBT berharap rekonstruksi kurikulum yang dihasilkan mampu menjadi fondasi bagi pengembangan pendidikan yang lebih adaptif, kontekstual, berbasis kebutuhan pasar tenaga kerja, serta selaras dengan potensi strategis Kalimantan Utara dan perkembangan ekonomi masa depan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *