TARAKAN, Kalpress.ID – Identitas kultural Suku Tidung di beranda utara Indonesia kini berada di persimpangan jalan. Sebuah riset mendalam dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan fakta mengkhawatirkan: budaya Tidung perlahan memudar di bawah tekanan globalisasi dan derasnya interaksi lintas etnis di wilayah perbatasan Kalimantan Utara (Kaltara).
Riset yang dimulai sejak 2024 ini memotret kondisi sosiokultural di titik-titik krusial, mulai dari Nunukan, Sebatik, Tarakan, hingga Kabupaten Tanah Tidung (KTT).
Identitas yang Kian “Kabur”
Ketua tim riset BRIN, Fairul Zabadi, menjelaskan bahwa wilayah perbatasan kini bukan lagi sekadar tempat persinggahan, melainkan zona hunian multietnis yang sangat cair. Di Sebatik, misalnya, pengaruh budaya Malaysia sangat dominan, menciptakan tantangan besar bagi pelestarian jati diri bangsa.
“Penelitian ini bertujuan mendokumentasikan adat, kuliner, hingga permainan tradisional guna memperkuat identitas kebangsaan yang mulai mengabur akibat interaksi lintas batas,” ujar Fairul pada Selasa (21/4/2026).
Harta Karun Budaya yang Tersisa
Meski terancam, tim peneliti yang terdiri dari pakar Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas BRIN serta akademisi lintas kampus, berhasil menginventarisasi kekayaan budaya yang masih bertahan di Tarakan:
-
Permainan Tradisional: Batu Lele, Lugu (Balugu), Simbon, dan Babitor.
-
Kuliner Autentik: Nasi Subut, Nasi Rasul, Sabai Banabok, hingga Ketumpuk Udang.
-
Ritual & Tradisi: Mandi Safar, Melarung Kapal, Besetan Badewa, hingga tradisi harmoni sosial seperti Nyembaloy dan Bekeparat.
Strategi Penyelamatan: Bukan Sekadar Dokumentasi
Data yang terkumpul menunjukkan bahwa budaya Tidung memiliki kekuatan sebagai perekat sosial. Nilai gotong royong dan integritas dalam adat mereka adalah benteng karakter nasional di wilayah perbatasan.
Namun, festival tahunan seperti Festival Iraw saja dianggap belum cukup. Tim peneliti menekankan perlunya langkah konkret yang lebih agresif, antara lain:
-
Transformasi Edukasi: Menyusun buku dan bahan ajar kurikulum lokal.
-
Aksi Budaya: Menggalakkan pertunjukan seni secara masif untuk generasi Z dan Alpha.
-
Digitalisasi: Memastikan data budaya tidak hanya tersimpan di arsip, tapi hidup di ruang publik.
“Pelestarian harus melampaui dokumentasi. Budaya Tidung harus tetap dipraktikkan agar tidak menjadi sekadar dongeng bagi generasi mendatang,” tegas Fairul.











