Praktisi Ekonomi: Pusat Perbelanjaan di Tarakan Juga Perlu Sistem Zonasi

Sebagai Kota Kecil, Pusat Perbelanjaan di Tarakan Juga Perlu Sistem Zonasi

Tarakan, Kalpress – Rencana revitalisasi THM Plaza menjadi pasar modern terus bergulir, pemerintah berencana hal ini mampu meningkatkan perputaran ekonomi dan pendapatan daerah di Kota Tarakan.

Namun, apakah strategi tersebut cukup efektif dalam mencapai harapan yang diinginkan. Praktisi Ekonomi Universitas Borneo Tarakan (UBT) Dr Margiyono S.E, M.Si menjelaskan, strategi tersebut cukup tepat.

Hanya saja, jika strategi itu cuman mengandalkan rekapitalisasi, revitalisasi dan inovasi pada gedung. Maka hal tersebut tidak akan berdampak signifikan bagi peningkatan aktivitas ekonomi. Mengingat strategi itu hanya memunculkan objek baru yang hanya mengalihkan area aktivitas vital perekonomian.

Menurutnya, hal tersebut telah dialami Tarakan dalam beberapa dekade sebelumnya.

“Izinkan saya menggunakan tiga kata kunci dalam mengamati hal ini, pertama adalah upaya untuk melakukan rekapitalisasi, kedua revitalisasi. Ini adalah upaya bagaimana objek akan digunakan menjadi aset Pemkot yang lebih vital dari sebelumnya,” Ungkapnya kepada Kalpress.id (10/04/2021).

Ketiga adalah inovasi. Lanjut Margiyono, inovasi artinya sekali pun ada upaya mendorong, pola perekonomian Tarakan digambarkan hampir mencapai full Employment.

“Mengapa demikian, karena semua sektor-sektor sudah bekerja secara maksimal, jadi kalau pun ada sektor atau pelaku baru itu sifatnya hanya mengganti yang lama, tidak menjadi sumber pertumbuhan secara signifikan. Ada tapi tidak besar,” ujarnya.

 

“Kita lihat polanya, pusat perekonomian Tarakan dulu kan di THM, kemudian bergeser ke Pasar Lingkas yang dimana disitu ada pusat perbelanjaan seperti Tolaram tahun 1990an, kemudian kembali ke THM setelah Tolaram bangkrut.”

Kemudian hadir Ramayana di Gusher, membuat area vital ekonomi bergeser ke sana. “Pola ini sebenarnya, sifatnya hanya mengganti yang sudah ada. Hanya sekadar revitalisasi, rekapitalisasi dan inovasi,” sambungnya.

Menurutnya rekapitalisasi, revitalisasi dan inovasi tidak semata pada objek bangunan saja, namun juga pada strategi sistem pasarnya.

“Jika pemerintah tetap menerapkan sistem seperti yang sebelumnya, maka dipastikan pasar modern THM hanya menjadi sebagai area vital ekonomi.”

Sementara, sebelum munculnya lokasi pusat perbelanjaan baru. Akan berbeda, jika pemerintah menerapkan sistem zonasi komoditi pada masing-masing pusat perbelanjaan.

“Katakanlah, kalau tidak ada kebijakan zonasi, zonasi ini pembagian atas jenis produk yang dijual. Misalnya, THM pusat perbelanjaan khusus menjual komoditi X sedangkan Ramayana pasar khusus menjual komoditi Y. Dengan ada zonasi pasar semacam ini, akan merangsang minat beli dan berpotensi meningkatkan aktivitas beli cukup pesat.” (JRT/ICB)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *