Ekonom Muda Kaltara “Dari Desa Membangun Indonesia”

Penulis : Andriansyah
Mahasiswa Fakultas Ekonomi UBT

Kalpress – Permasalahan utama pembangunan wilayah di Kalimantan Utara saat ini adalah masih besarnya kesenjangan antar wilayah, Kalimantan utara yang terdiri 4 kabupaten dan 1 kota. Masih saja sangat terlihat jelas ketimpangan yang terjadi di setiap daerah Kalimantan Utara, problematika pembangunan juga yang kini terlihat dari infrastukturnya. Salah satu contoh tepatnya Tarakan sebagai satu-satunya kota yang ada di Kalimantan Utara terlihat jelas mengungguli daerah lain yang berada di Kalimantan utara. Telihat dari sisi ekonomi Kota Tarakan yang merupakan penyumbang APBD terbesar di Kalimantan utara yaitu 37,64%. Adapaun dari segi Pendidikan juga yang terlihat jelas bahwa Universitas Borneo Tarakan yang merupakan satu-satunya Universitas Negeri di Kalimantan Utara terletak di Kota Tarakan.

Bacaan Lainnya

Sehubungan dengan hal ini mengarah kebijakan utama pembangunan wilayah di Kalimantan utara adalah perbaikan sumberdaya manusia. Dalam problem yang terjadi saya sebagai Mahasiswa Fakultas Ekonomi memperhatikan ada kegagalan dalam pembentukan karakter mahasiswa yang menuntut ilmu di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang ada di Kalimantan utara tepatnya Universitas Borneo Tarakan. Ujar Andriansyah Mahasiswa yang kuliah di UBT itu tidak hanya dari Tarakan saja akan tetapi banyak juga dari mahasiswa luar dari wilayah Kota Tarakan yang berasal dari daerah yang ada di Kalimantan utara. Seperti contoh baik dari kab. Nunukan, kab. Malinau, kab. Bulungan dan kab. Tana Tidung bahkan yang dari luar Kalimantan seperti NTT, Pulau Jawa dan Sulawesi. Menurut saya mahasiswa yang berasal dari yang saya sebutkan diantaranya sedemikian rupa, haruslah bisa melakukan sebuah gerakan perubahan selama masa kemahasiswaannya.

Organisasi Kemahasiswaan (ORMAWA) sebagai wadah mahasiswa dalam proses pengembangkan soft skill yaitu harus berperan aktif dalam dunia perubahan bukan hanya dalam lingkup akademisi sebagai bekal ketika mereka pasca sarjana nantinya. Mahasiswa/i yang cerdas dalam ruang pelajaran saja tidak cukup untuk membuat suatu gerakan perubahan pada suatu keterpurukan, akan tetapi dibutuhkan juga keluasan ilmu pengetahuaan serta implementasi diluar dari Fakultas bahkan jurusan mereka sekalipun, hal ini yang membuat mahasiswa/I mendapatkan soft skill di organisasi kemahasiswaan.

Organisasi Kedaerahaan (ORGANDA) juga sebagai wadah pertama kali mahasiswa/i UBT terkhususnya luar dari Kota Tarakan yang harus serta mampu memberikan sebuah pemahaman pada setiap mahasiswa/i yang berasal dari daerahnya masing-masing, untuk belajar dan menimbah ilmu sebanyak mungkin di UBT dan ketika kembali ke daerahnya atau desa mereka mampu mengakualisasikan sorf skill agar dapat membangun daerahnya atau desa asalnya. Gerakan-gerakan seperti inilah yang harus dilakukan secara masif oleh setiap Organisasi Kedaerahaan yang juga perperan aktif sebagai wadah bagi mahasiwa dari setiap daerah. Gerakan Desa membangun Indonesia sebagai nawacita dari Presiden Republik Indonesia bapak yang menahkodai negara ialah Joko Widodo, yang bisa kita awali dengan peningkatan sumberdaya manusia. Karena disetiap mahasiwa sudah jelas punya kesadaran untuk memajukan desa. Yang nantinya Desa akan didatangi oleh cendikiawan yang mampu membuat perubahan untuk desa mereka dan tentu desa akan Makmur serta Sejaterah. Ketika desa sudah bisa mandiri tentunya akan sangat jelas berdampak pada pembangunan, terkhususnya yang ada di Kalimantan utara juga.

Terakhir yang ini saya sampaikan bahwa Tujuan akhir dari desa untuk membangun Indonesia adalah mencapai cita-cita besar bangsa Indonesia adalah Indonesia Emas 2045. Tutup penyampaian Andriansyah kepada Tim Media.

#DesaMembangunIndonesia
#IndonesisEmas2045
#MahasiswaMembawaPerubahan
#DeriPerbatasanUntukIndonesia

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *