Ayah Meninggal Di DTI, Khairil dan Hasril Hidup Diblok Tahanan Orang Dewasa

Ayah Meninggal Di DTI, Khairil dan Hasril Hidup Diblok Tahanan Orang Dewasa

Tarakan, Kalpress – Khairil dan Hasril berusia 9 dan 5 tahun ketika tertangkap bersama bapaknya. Mereka tertangkap di atas sebuah truk pengangkut buah sawit di tengah perjalanan untuk menyeberang perbatasan dari Sabah ke Nunukan. Khairil dan Hasril harus mendekam di pusat tahanan imigrasi di blok orang dewasa selama 8 bulan. Pada September 2021, mereka berdua menyaksikan bapaknya meninggal di dalam pusat tahanan imigrasi. Ketika jenazah bapaknya digotong keluar blok keduanya tidak berhenti menangis. Sejak itu sampai dideportasi satu bulan kemudian, keduanya harus hidup di blok tahanan dewasa tanpa orang tuanya.

Cerita bermula ketika bulan Maret 2021, Khairil dan Hasril bersama bapaknya ingin pulang ke kampung mereka di Bulukumba, Sulawesi Selatan. Dari perkebunan sawit di Lahad Datu mereka menuju Tawau menumpangi sebuah truk pengangkut buah sawit bersama sekitar 30 migran lainnya. Malam hari, di sebuah jembatan dekat Tawau, bersama tiga truk lain di depannya yang juga mengangkut migran tak berdokumen, mereka dihentikan oleh razia gabungan. Tiga truk pertama hanya diperiksa sambil lalu dan dibiarkan lewat. Sialnya, seluruh penumpang di truk keempat ditangkap dan dibawa ke lokap Polisi.

Berapa hari kemudian, Khairil, Hasril dan bapaknya dipindahkan ke Depot Tahanan Imigrasi Tawau.

Khairil dan Hasril mendekam bersama bapaknya di blok orang dewasa. Blok berukuran sekitar 8 x 12 meter bersama 200 lebih tahanan lainnya. Selama 8 bulan tanpa sinar matahari. Tanpa aktivitas di luar blok, tanpa aktivitas pendidikan, tanpa mainan. Mereka berdua harus mendekam di blok tahanan yang penuh sesak, kotor, lembab dan bau. Mereka harus tidur di lantai yang kasar tanpa matras dan selimut. Dengan kondisi makanan yang buruk, dan air minum yang tidak cukup.

Untuk mengusir kejenuhan, keduanya menggunakan selembar kayu tipis yang dibentuk serupa telepon seluler dan pistol mainan. Terkadang keduanya berlari-lari di dalam blok, menonton orang dewasa bermain kartu domino, sisanya hanya tidur dan berbaring diam. Mereka juga menyaksikan orang dewasa berkelahi, dihukum oleh petugas, dan beberapa tahanan yang sakit parah terbujur lemas.

Termasuk menyaksikan kondisi kesehatan bapaknya yang memburuk dengan cepat. Kondisi tubuh bapaknya semakin melemah dan beberapa kali pingsan. Sampai akhirnya pada 25 September 2021, sekitar jam 6 pagi bapaknya kembali pingsan dan akhirnya dibawa ke rumah sakit. Dua jam kemudian, bapaknya dinyatakan telah meninggal. Namun menurut kesaksian beberapa orang, bapaknya sudah tidak bernafas sebelum dibawa ke rumah sakit.

Mereka tidak berhenti menangis melihat tubuh bapaknya dibopong keluar blok dan dimasukan ke ambulan. Itu adalah saat terakhir mereka melihat wajah bapaknya. Mereka terus menangis selama beberapa malam. Tidak berhenti menanyakan kapan bapaknya akan kembali. Beberapa tahanan dewasa berusaha menghibur mereka.

Walaupun bapaknya meninggal, mereka berdua tidak pernah dipindahkan dari pusat tahanan imigrasi ke fasilitas lainnya. Mereka terus mendekam di DTI Tawau sampai akhirnya dideportasi satu bulan kemudian. Selama itu, mereka berdua dijaga oleh seorang tahanan yang telah berusia lanjut. Tahanan lainnya yang juga ikut membantu menghibur mereka. Memberi mereka makanan lebih, membuatkan mainan, dan mengajak mereka bermain.

Kami bertemu mereka sesaat setelah diturunkan dari kapal pengangkut deportan di pelabuhan kayu Tunon Taka, Nunukan. Keduanya terlihat lelah dan bingung. Khairil membopong tas plastik berisi pakaian bapaknya. Tidak ada pihak Konsulat yang mendampingi mereka. Hanya bapak tua itulah yang terus menemani keduanya. Setelah melalui tes swab dan proses administrasi kedatangan, keduanya kemudian disimpan di sebuah ruangan khusus yang digunakan BP2MI di pelabuhan. Disitulah kami menemui dan berbicara dengan mereka. Ketika kami bertanya ingin apa? Mereka hanya diam bingung. Ketika kami menawarkan minuman Milo, mereka berdua mengangguk setuju.

Setelah dari pelabuhan, keduanya diantar ke Ruhama, sebuah rumah yatim piatu yang dikelola oleh Yayasan Aisyiyah, di bawah Muhammadiyah. Keesokan harinya kami mengunjungi mereka disana. Keduanya terlihat lebih bersih, segar dan ceria. Banyak orang memberikan bantuan pakaian, makanan, dan mainan. Selama tujuh hari di Ruhama, kondisi mereka terus membaik. Mereka juga telah berhasil menghubungi ibu nya yang berada di Sabah, dan keluarga bapaknya di Bulukumba. Mereka kemudian dihantar oleh seorang petugas perempuan dari BP2MI Nunukan ke Makassar. Dari sana mereka melanjutkan perjalanannya ke rumah neneknya di Bulukumba.

Selama 7 hari di Nunukan, mereka tidak bisa bertemu dengan ibunya. Seperti bapaknya, ibunya adalah buruh migran tanpa dokumen di perkebunan sawit di Sabah. Perbatasan antara Sabah dan Kalimantan Utara juga masih ditutup, ditambah tidak ada upaya dari otoritas manapun untuk memfasilitasi pertemuan mereka berdua dengan ibunya. Hampir tidak ada peluang untuk mempertemukan segera kedua anak itu dengan ibunya.

Khairil dan Hasril, lahir di sebuah perkebunan kelapa sawit di Sabah. Kelahiran mereka tak pernah tercatat di institusi manapun. Tak pernah bersekolah, tak bisa membaca dan berhitung. Lalu tertangkap bersama bapaknya di atas truk pengangkut buah sawit. Dilempar ke dalam pusat tahanan imigrasi yang kejam. Kemudian menyaksikan bapaknya meninggal di dalam tahanan imigrasi. Di tahun yang sama, harga minyak mentah sawit (crude palm oil) naik signifikan sebesar 64%. Nilai ekspor berbagai produk kelapa sawit dari Sabah juga meningkat 48%. Di balik itu semua, ada cerita Asri bin Saing dan kedua anaknya, yang diburu, ditangkap, ditahan lalu diusir sewenang-wenang.

 

Sumber: Laporan TPF KBMB

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *